Reklamasi dan Pengembangan Lahan
Diposting tanggal: 31 Mei 2010

Kebanyakan kota besar di dunia berada di garis  pantai. Bertetangga dengan laut  banyak  memberikan keuntungan ekonomi, karena itu orang   lebih tertarik untuk tinggal di dataran rendah dari pada di wilayah pegunungan. Di awal tahun 90’an jumlah penduduk dunia yang mendiami daerah pantai mencapai 3,7 miliar orang. Diprediksi  hingga tahun 2020  sekitar 75 % penduduk dunia tinggal di kawasan pantai.

Kecenderungan yang sama juga  terjadi di Indonesia. Panjang pantai yang mencapai  sekitar  80 ribu kilometer serta  jumlah pulau yang melebihi dari 17 ribu, membuat  isu pembangunan di daerah pantai menjadi dominan. Kemajuan dan perkembangan yang pesat di daerah ini, justru semakin mendorong orang untuk terus berbondong-bondong  ke kawasan yang sebenarnya jumlah penduduknya sudah sangat padat.   

Sayangnya jumlah lahan yang dapat ditempati semakin hari semakin terbatas, akibatnya untuk melakukan pembangunan dan pengembangan menjadi sangat sulit. Terlebih lagi dengan adanya  tata guna lahan, yang membatasi orang untuk tidak melakukan pembangunan yang tak sesuai dengan peruntukannya.

 

Pembangunan suatu kawasan industri atau kota baru memerlukan ratusan sampai ribuan hektar lahan. Pembebasan lahan sering menjadi kendala utama dalam implementasi proyek. Pembebasan lahan dalam skala luas praktis sulit dilakukan karena tingginya bobot permasalahan sosial yang ditimbulkannya.

 

Pengalaman menunjukkan bahwa penolakan, sekalipun oleh kelompok minoritas, dapat menyebabkan pelaksanaan proyek menjadi berlarut-larut. Hal ini menjadi ekstra pemicu dan pemacu bagi investor untuk memilih melakukan kegiatan pengembangan kawasan melalui proses reklamasi. Lambat laun, reklamasi lahan menjadi pilihan  yang tergolong paling rasional.  Menjadi satu penyelesaian yang bisa meminimalisir dampak sosial.

 

Dalam skala besar, ‘membuat lahan’ menjadi lebih murah dan jauh lebih mudah dibandingkan dengan ‘membebaskan lahan’.  Tampaknya reklamasi telah menjadi tren dunia yang sulit untuk dibendung.

 

Reklamasi bukan hanya suatu kegiatan yang digunakan untuk menambah lahan daratan, namun kerap pula proses reklamasi digunakan untuk maksud perbaikan/pengembalian  lingkungan ke arah aslinya. Kegiatan restorasi pantai dan perbaikan/pembersihan lahan bekas penambangan merupakan contoh lain dimana proses reklamasi dibutuhkan. 

Dibeberapa negara reklamasi telah menghasilkan satu lahan baru dengan penataan dan desain yang spektakuler.  Sehingga tidak saja bermanfaat  tetapi juga  ramah lingkungan dan menambah nilai estetis pada lahan yang dibangun.  Reklamasi-reklamasi semacam ini bisa dilihat seperti di  Palm Island, Dubai ; St Petersburg, Rusia ;  Bandar Udara Kansai, Jepang dan lain-lain.   

Dalam skala yang lebih kecil, reklamasi juga sering dilakukan untuk pengembangan  atau perbaikan satu wilayah. Seperti pengembangan  lahan untuk pabrik di atas tanah rawa-rawa dan  penataan kembali lahan bekas galian batu bara atau lahan pertambangan lainnya.  

Sebagaimana juga suatu pilihan dalam aspek kehidupan lainnya, pilihan untuk melakukan reklamasi lahan tentu saja bukan merupakan pilihan yang tanpa risiko. Kegiatan reklamasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit dengan segala kemungkinan risiko yang menyertainya. Perencanaan dan perancangan perlu dilakukan secara seksama, untuk memperkecil risiko yang dapat ditimbulkannya. Perlu persiapan dan keahlian untuk mengawal pelaksanaannya.

ILWI dapat membantu anda dalam merencanakan dan mengimplementasikan reklamasi  yang efisien dan berwawasan lingkungan.