Jumat, 07 Juni 2013 - 10:34:50 WIB
Sampah Sebagai Bahan Reklamasi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: - Dibaca: 541097 kali

Sampah/limbah sebagai bahan reklamasi telah diterapkan di Semakau Island di Singapore dan Tokyo Bay  di Jepang. Hal ini terungkap  dalam seminar “Rencana Pengembangan Kawasan Pusat Pengelolaan Limbah Serta Utilitas Lingkungan Terpadu Lepas Pantai Pertama di Indonesia di Teluk Jakarta.”  

Firdaus Ali, dari Indonesia Water Institute (IWI), yang menjadi penggagas acara ini, mengatakan perlu diperhatikan masalah ruang dan lingkungan di Jakarta . Mengingat  masalah kelebihan limbah  ini sudah dialami Jakarta sejak bertahun-tahun lalu. Hal ini harus pula diperhatikan dalam pengembangan daerah reklamasi di Teluk Jakarta. “Karena daerah ini paling strategis dan seksi,” imbuhnya.    

Menurut  Sutanto Soehodho,  Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi,  reklamasi di Jakarta sulit dielakan lagi karena lahan yang ada sekarang sangat terbatas. Meski demikian dia mengingatkan bahwa  nantinya  perlu pengelolaan limbah yang terintegrasi di lahan reklamasi itu.  Hal ini diungkapkan oleh Sutanto ketika membuka acara seminar ini, mewakili Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.  

Senada dengan Sutanto, Sarwo Handayani, Ketua Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, juga menyatakan bahwa perlunya melakukan reklamasi untuk pengembangan kota Jakarta.  “Terbatasnya pantai publik dan kualitas pantai yang menurun juga menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.  Apalagi semakin hari banjir rob semakin mengganggu Jakarta.  

Seminar yang berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta, 5 Juni 2013, ini menjadi menarik karena dihadiri juga oleh para ahli dari Singapore dan Jepang yang terlibat dalam penggunaan limbah sebagai bahan  reklamasi.  Yap Kay Lee, Manajer Senior, yang terlibat langsung dalam reklamasi di Pulau Semakau, Singapura, menyatakan bahwa reklamasi yang dilakukan dipulau seluas 350 hektar itu juga memakai limbah sebagai bahannya. “Perkiraan reklamasi di pulau ini baru rampung  tahun 2045,” katanya.

Di Tokyo Bay, Jepang, dalam membangun Sea Landfill di  wilayah itu, cukup berhasill mengurangi  sampah yang setiap harinya dibuang oleh warga Tokyo.  Di wilayah ini reklamasi dilakukan di kedalaman minus 30 meter sedangkan tinggi  lahannya mencapai 6 meter dari permukaan laut. Menurut Yasuhiko Yamada,  Director of Landfill Management, bahwa kota Jakarta dan Tokyo  permasalahan sampahnya hampir sama.  “Perlu mencari landfill yang tepat,”ujarnya.

Sementara itu menurut Sawarendro, praktisi reklamasi dan pengelolaan air, yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu, secara teknis memang sampah bisa digunakan sebagai bahan untuk melakukan reklamasi. Akan tetapi perlu waktu yang relatif lebih panjang dibandingkan jika dengan menggunakan pasir, disamping itu penurunan tanahnya nanti bisa lebih cepat. “Karena itu untuk melakukan sea landfill di teluk Jakarta sangat tergantung kegunaan dari pulau reklamasi itu,” ujar Sawarendro.           




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)